AKIRA
AKIRA dipindah ke alamat yang baru di: http://komikanimasi.web.id/index.php

Forum ini akan dibuka untuk umum sampai tanggal 20 November 2011 atau sampai proses pemindahan thread sudah selesai.

Silahkan daftar ulang di forum yang baru. :)

Terima kasih atas perhatiannya.



 

HomeFAQSearchRegisterLog in

Share | 
 

 Fanfic Competition #1

View previous topic View next topic Go down 
AuthorMessage
Sheratan


avatar

Posts : 841
Reputation : 2
Join date : 2011-05-27
Location : Here, there, and everywhere.


http://komikanimasi.forumid.net
PostSubject: Fanfic Competition #1   Sun Aug 14, 2011 5:00 pm

Selamat datang di thread kompetisi fanfic pertama di AKIRA.

Berhubung kita sedang berada di bulan Agustus dan sekaligus bulan Ramadhan, maka tema fanfic pertama kita adalah:
Spoiler:
 
Tema diatas adalah 1 bagian, artinya bukan "Persahabatan" saja atau "Kesalahan" saja.

Berikut adalah syarat-syaratnya:Semua user berhak mengikuti lomba ini kecuali staff.
  1. Fanfic yang dibuat harus asli, original, buatan sendiri. Jika ketahuan curang maka user tersebut dapat 1 poin hukuman selama 3 bulan dan dilarang ikut seluruh kompetisi di forum selama 3 bulan.
  2. Maksimal 1 karya per-user. Dilarang menggunakan akun duplikat! Jika ketahuan akun asli dan duplikat tersebut akan mendapatkan hukuman yang sama dengan no.2
  3. Fanfic tersebut harus sesuai dengan tema yang diberikan.
  4. Fanfic tersebut bebas, tapi ratingnya harus PG-13
  5. Fanfic di post di thread ini. Bentuk post (seperti warna, hiasan, dsb) turut menyumbangkan penilaian.
  6. Sistem penilaiannya adalah voting terbuka. User yang mengirimkan karyanya masih bisa mengikuti voting.
Hadiah dari kompetisi ini adalah:
Spoiler:
 
Jika ada pertanyaan; tanyakan di thread ini

Kompetisi ini ditutup pada tanggal 1 September 2011.
nyauwok




Posts : 17
Reputation : 1
Join date : 2011-05-27
Location : Surabaya


PostSubject: Re: Fanfic Competition #1   Tue Aug 23, 2011 8:42 pm

Semoga partisipasi saya ini mengikuti ‘weton’ persahabatan dan kesalahan. Maaf, kalau nanti kesulitan menyelesaikan fan-fic-nya.
Semoga berkenan, mohon maaf kalau ada kesalahan.
Kalau udah 65000, bilang yo bos, jadi saya berhenti ngetik.... gamsamida.


STOLEN FACES

Di suatu rumah sakit bedah plastik…

2 orang remaja masuk…..

“Anak ini bernama Toshi, dia adalah saksi pembunuhan yang hampir saja terbunuh. Wajahnya hancur, penjahat itu sungguh keji menyayat2 wajahnya, untung dia selamat tapi kita perlu agar wajahnya kembali seperti semula agar kita bisa mendapatkan saksi yang sesuai untuk kasus ini di pengadilan.”

Di ruangan lain…
“Anak ini bernama Zero, wajahnya hancur setelah tabrakan hebat beberapa waktu lalu. Dia dikirim kesini agar wajahnya bisa dikembalikan seperti semua.”





-----

“Suster, kau ini bagaimana?! Saya sudah bilang bahwa alat2 ini harus benar2 steril. Saya tidak mencium bau antiseptic di peralatan ini, ganti semua berikut baki dan kain itu!”
“Aduh sial sekali, biasanya tidak apa2, aduh mana aku belum kasih tag gelang pasien lagi ke anak2 itu. Aduh… Mbak, tolong donk bantu…” Suster itu menghentikan seorang cleaning service.
“Tag dikiri untuk anak di kamar itu, tag dikanan untuk anak di kamar ini. Tolong ya, mbak.”
“Iya iya…” Mbak itu berpikir lagi…”Tadi yang kanan untuk anak yang mana ya? Gimana nieh, aku ndak inget… Oh ya nanya anaknya aja…”

------

Dia pun melongok ke kamar sebelah “Wah tidur, sudah dibius… Hmm, kanan untuk kamar itu. Kiri untuk kamar ini rasanya. Hmm….” Cleaning service itu mengangkat bahu.
Dia pun memasang tag pada anak2 itu dipergelangannya. Anak yang satu tertidur. Yang lain terlihat ketakutan meringkuk tidak mau memandang wajah mbak itu.

---------

Operasi dimulai…. Setelah beberapa kali…..

“Lha, wajahmu sekarang sudah mulai sembuh dan membaik. Perban udah boleh dibuka.” Dokter pun membuka perlahan2 perban itu. “Suster, bawakan cermin ya.”
“Nah, bagaimana, nak? Jangan kuatir soal rambut, kamu mengalami gegar otak parah dan ada penggumpalan di kepalamu, dokter spesialis mengoperasinya terpaksa mencukurnya, nanti tumbuh kok. Sekarang kamu sudah sembuh.”
Tapi alangkah terperanjatnya si anak saat melihat wajahnya. “Dokter! Kenapa wajahku jadi seperti ini! Kenapa?!” Dengan kasar, anak itu menggenggam jubah dokter dengan geram.
“Hah? Dengar ya nak, kami, tim dokter sudah mengoperasinya dengan sebaik2nya. Tapi saya bukan Tuhan, tentu saja ada kekurangan!” Dokter itu berteriak dengan nada meninggi dan kaget.

“Ini bukan wajah saya, ini bukan wajah saya.”

“Dengar nak, kamu ini sudah operasi wajah pake uang Negara. Cerewet lagi.” Seorang polisi berusaha melerai anak itu dan dokter. “Maaf ya, dokter.” Dokter itu mengangguk dan cepat2 pergi.

Polisi itu pun langsung bersibuk ria untuk berkomunikasi dengan line tidak terlacak dengan team nya. “Siapkan sanctuary house.”

------

Sementara di kamar lain.

“Ah, Zero, ayah sangat kuatir.” Seorang pria setengah baya yang terlihat awet muda dan kekanakan memeluknya. “Sebentar perbannya dibuka.” Sementara remaja yang matanya lagi ditutup perban juga terlihat ragu dengan pelukan itu.

“Ah, dokter, tolong ya.”

Dokter yang agak pucat wajahnya itu mengangguk dan membuka perban dengan perlahan. “Bagaimana?” Dokter itu bertanya sambil menyodorkan cermin dengan tangan agak gemetar kepada anak itu. Anak itu terlihat terkejut. Dia memandangi Kaien, pria setengah baya itu dengan kaget dan heran. “Siapa dia?” dalam hatinya dia berpikir. Dia sangat berharap ibu, ayah, kakak, & sahabat2nya menengok dia. Tapi sepertinya karena kasus itu, sebaiknya orang2 terdekatnya tidak tahu keberadaannya. Entah kenapa pria itu sepertinya juga agak terkejut melihat dia.
Ucapan pria setengah baya yang memeluknya tadi membuat dia tersadar dari lamunannya. “Nak, mungkin kamu kaget, rambutmu kayak biksu Shaolin sementara ini. Itu karena kamu abis dioperasi. Nanti tumbuh. Ini ayah sudah belikan kamu topi2 yang keren. Kamu harus hati2 ya jangan kecapaian, ada pembekuan darah di otak kamu karena kecelakaan itu.”

-----

“Rumah perlindungan sudah siap, pak”
“Siapa yang punya rumah itu?”
“Seorang anak yatim piatu, pak. Nama Watanuki Kimihiro. Rumahnya punya dia. Dia tinggal seorang diri. Kenapa tidak diamankan di rumah perlindungan yang biasanya, pak?”
“There is dirty cop, boy. Ini lebih aman untuk anak itu. Pihak rumah sakit sudah merilis jam kematian anak itu dan hari ini seharusnya hari pemakaman”nya”. Kita juga harus bergegas kesana menyampaikan duka cita.”
“Rasanya tidak benar ya, pak. Kasihan keluarganya. Kita juga bohong ama Watanuki.”
“Yah, apa boleh buat, daripada nyawanya beneran melayang. Kita juga harus menjaga keselamatan keluarga dia.”
-----
“Nak, anak ini sementara tinggal dan sekolah di tempat kamu. Aku tahu kamu agak tidak suka ada teman dirumahmu ini. Tapi ini lah satu2nya cara agar kamu terbebas dari pihak penggugat warisan atas rumah kamu. OK?”
Watanuki terdiam menunduk. “Suruh anak itu keluar dari mobil. Jangan sampai lari lagi.” Polisi itu memerintah anak buahnya.
“Watanuki, kenalkan, dia Toshi. Toshi, ini Watanuki.” Watanuki terlihat sangat takut pada anak itu. Anak itu terlihat tidak bersahabat melalui pancaran cahaya mata yang berwarna keunguan itu tapi bukan itu yang bikin Watanuki takut, ada hal yang lain. Suara dentingan logam saat borgol anak itu dilepas, membuat konsentrasi akan ketidak enakan aura itu buyar dari perasaan Watanuki. “Jangan dipikirkan ya nak, anak ini sudah kami tatar mengenai keharusan dia untuk tinggal disini baik2.” Mobil itu pun buru2 ‘kabur’ dari depan rumah Watanuki.

-----

Sementara itu…
Yuki agak kuatir dengan ‘Zero’ yang sering terlihat ketakutan. “Zero” terlihat aneh, dia jadi tidak tsundere lagi, warna mata juga berubah, mungkin juga melihat penampilan “Zero” yang sering bertopi agak terasa aneh. Mungkin kecelakaan itu menyadarkan dia. Tapi Zero tidak bisa lagi menggunakan pistol. Dia terlihat tidak terampil lagi. Yuki bekerja lebih untuk mereka berdua saat jaga malam. Bahkan sejak malam yang pertama, Yuki pun tidak mengijinkan lagi “Zero“ untuk berjaga malam. “Zero” terlihat sangat syok saat sesosok level E tiba2 menyerang dipagar sekolah.

-----

Malam itu,
Kaien bak tersambar petir mendengar ucapan Kaname.
“Bapak Kepala Sekolah, siapa yang kamu bawa pulang?”
“Eh? Yang Mulia, tentu saja Zero, yah, dia memang lagi agak aneh, mungkin karena kecelakaan itu.”
“Pak, dia bukan Zero, dia tidak lagi berbau calon vampire.”
“Apa?”
“Zero dimana? Dia bisa membahayakan.”
“Ki kita harus mencarinya. Sial!”

------

Rasa haus menguasai dia. Watanuki terlihat lezat. Dia bahkan terlihat jauh lebih lezat dari segala gadis2 muda yang bersliweran di sekolahnya dulu. Tak kuasa, dia pun menggigit tangannya sendiri.
Teriakan Watanuki dari dalam dapur membuatnya kaget. “Toshi-kun, ayo makan.” Watanuki terlihat sibuk, tapi pikirannya jauh lebih sibuk: dia bayar hanya untuk tinggal, air dan listrik. Lalu kenapa aku juga menyiapkan dia makanan, menyiapkan air mandinya, mencuci bajunya, dia sama sekali tidak bantu aku bersih2, tidak pernah mengucapkan terimakasih! Arrrrgh, dia jauh lebih menjengkelkan dari Domeki! ”
Sesaat…
“Lho mana anak itu, tidak turun juga. Ah masih harus panggil dia. Emang aku butler apa.” Watanuki menggerutu sambil naik ke atas.
Ketukan pintu yang tidak juga dijawab membuat Watanuki semakin jengkel. Dia pun membuka daun pintu itu dengan jengkel. Tapi alangkah terperanjatnya dia melihat keadaan Toshi.

“Ma matanya merah. Mu mu mulutnya berdarah.” Watanuki pun segera kabur saat melihat Toshi dengan mata memerah menoleh kearahnya dengan kaget.
“Se se sssetan…. Apa yang harus kulakukan? Telpon Domeki…. Ah tidak tidak tidak….. gg garam garam… bisa membantu….. taburkan garam mengelilingi aku… sebentar bawang putih ….. aaaku masukkan saku celemek saja… “ Dengan reflek, Watanuki memegang pan penggoreng telur pada tangannya. Tak lama kemudian, “Toshi “ terdengar turun tapi sesampai di dapur, dia terlihat bingung dan menderita.

“Bagus, dia tidak melihat ku. Lingkaran garam ini manjur*.” Watanuki terlihat senang dengan ekspresi “Toshi”. Tapi tiba2 “Toshi’ menghilang dari pandangannya sedetik kemudian lehernya seperti tersengat, pandangannya pun kabur. Sejenak Watanuki merasa menyesal lebih mengikuti info yang salah tentang garam dan bawang putih yang bisa mengusir setan, seharusnya dia menelpon Domeki.
*(petunjuk dari film Bram Stoker’s Dracula)

------

Goro memandangi dinding yang biasa dipakai Toshi berlatih dengan sedih. Dia terkenang saat menyuruh Toshi untuk melatih tendangan saltonya disini. Lintasan kenangan akan Toshi terhenti saat dia mendengar gemeresik daun kering yang terinjak. Dia melihat kiper gawang, sahabat Toshi sejak SMP, melihat ke dinding itu juga. Raut wajahnya terlihat sangat marah dan gusar. Dari kantongnya, dia mengeluarkan setangkai bunga dan meletakkan di dinding itu.
“Aku akan cari tahu siapa yang melakukan ini pada Toshi. Kejam sekali.” Tutur anak itu dengan geram. “Hei… itu bisa membahayakan jiwamu, biar polisi saja. Apa kamu mau membahayakan keluargamu juga?” Goro meminta pengertian.

------

Toshi sangat ingin memberitahu kepada Yuki bahwa dia bukan Zero. Dia merasa bersalah dan kasihan pada gadis itu. Mungkin sebaiknya gadis itu dicarikan partner lain untuk menjaga sekolah yang aneh itu. Sekolah 2 shift yang aneh. Murid shift malam sangat aneh. Mereka sangat wah. Tapi ada yang begitu aneh dengan mereka. Entah kenapa bulu kuduk nya justru berdiri saat barisan foto model itu lewat masuk sekolah pas sore hari.
Malam ini, Toshi membulatkan hatinya untuk memberitahu Yuki. Dia pun berjalan tergesa menghampiri Yuki yang terlihat waspada berjaga didepan lonceng sekolah yang diatap itu. Tapi sekelebat bayangan melumpuhkan Yuki, dia jatuh terjerembab dan muncul sesosok makhluk buas yang menyerang Yuki dengan cepat. Dengan reflek, Toshi menendang ember cat yang kebetulan lupa dimasukkan gudang sehabis mengecat kemarin. Ember itu tepat mengenai makhluk itu. Makhluk itu berbalik arah menyerangnya. Sejenak Toshi tidak bisa bergerak. Matanya terpaku pada mata berwarna merah makhluk bergigi tajam yang dengan cepat dan penuh kemarahan melompat kearahnya.
Pukulan tongkat Yuki menyelamatkannya dan tangan Yuki menggenggam pergelangannya dan menariknya agar cepat turun menyusuri anak tangga. Blaam!! pintu ditutup dengan keras untuk menghadang level E tsb.
“Ini tidak benar! Kenapa aku membiarkan seorang gadis melindungiku, seharusnya aku yang melindungi dia.” Toshi pun melepaskan pegangan Yuki. “Yuki, pergi minta tolong ke Kaien. Aku yang urus dia.”
“Tapi…”
“Cepat!”
Yuki pun berlari menyusuri anak tangga. Dia sangat kuatir dengan “Zero” tapi dia tidak berdaya dan harus minta bantuan Kaien.
Tanpa pikir panjang lagi, Toshi menggigit jarinya hingga berdarah. “Semoga dia lebih tertarik dengan ini. Semoga Yuuki selamat.” Dia pun menggosokan jari berdarahnya ke dinding dan lalu berlari dengan cepat. Bayangan akan kekejaman orang2 yang dulu menyiksanya sampai hampir mati menghantui pikirannya. Ingatan akan keluarga dan sahabatnya terlintas dikepalanya saat dia berlari dengan cepat menembus pintu menuju jembatan penghubung lantai tingkat 2 di sekolah itu. Tapi makhluk itu sudah meloncat ke hadapannya. Dengan segera dia berlari balik arah. Teriakan Yuki membuat dia kaget dan berhenti sejenak. “Zero, ini…. “ Sebuah bola aneh dilemparkan kearah dia oleh Yuki. Dengan reflek, Toshi menendang dengan gaya salto kearah belakang dan tendangan Toshi membuat bola itu terlempar dengan keras ke lantai dan cahaya sangat terang menyilaukan keluar dari bola itu. Makhluk itu terpanggang habis menjadi serpihan arang.
“Zero” menyelamatkan mereka berdua malam ini. Tapi “Zero” sekarang terlihat sangat syok dan depresi. Tangannya terus bergemetaran dan tidak sanggup berbicara apapun. Yuki sangat kuatir. Penglihatan “Zero” nampaknya juga terganggu setelah cahaya menyilaukan itu juga ‘menyerang’ matanya.

------

Darah Watanuki sangat luar biasa. Kehausan yang berhari-hari dia rasakan hilang dengan tuntas. Untung dia sanggup mengendalikan diri dan menghentikannya.
Watanuki bangun. Mungkin Watanuki akan mengusirnya. Zero bermaksud meminta maaf padanya. Tapi begitu melihatnya, Watanuki berteriak2 histeris dan melemparkan segala sesuatu padanya.
Setelah beberapa saat, Watanuki seperti tersadar dan lalu terdiam melihatnya. Watanuki merasakan penderitaan yang besar dari sorotan mata “Toshi”.
Watanuki teringat akan gigitan “Toshi”. “Yay…… aku akan jadi vampir, setan,….” Sambil memegangi lehernya. Watanuki pun berlari kearah dapur dan mengambil beberapa bawang putih dan mengupasnya dengan gemetaran dan mengunyahnya.
Zero paham polah tingkah Watanuki. “Kamu tidak akan jadi vampir. Aku bukan pure blood.”
“Hah?” Pisau yang dipegang Watanuki terjatuh dari tangan Watanuki dan Watanuki pun duduk tersimpuh.

-----

Gadis itu memandangi kamar adiknya yang ada dibelakang rumah. Adiknya, Toshi yang memang agak pendiam sering duduk terdiam di kamarnya. Dia sangat merindukan kecerewetan adiknya kalau dia meminjam barang adiknya itu. Dia sangat merindukan suara bola yang ditendang2 tiap pagi buta. Adiknya sudah berlatih mendrible jam segitu. Hatinya sangat marah kepada orang yang membunuh adiknya. Hatinya sangat marah pada polisi yang tidak kunjung menuntaskan kasus adiknya.

------

Kaien meminta bantuan pemburu vampir untuk mencari Zero. Dia tidak paham kenapa rumah sakit itu memberikan wajah Zero kepada anak lain. Apa yang terjadi pada Zero? Apa wajah dia memakai wajah anak yang dia bawa sebagai Zero sekarang? Anak itu dikatakan sudah meninggal. Kaien hanya bisa berharap wajah Zero masih tetap atau memakai wajah anak itu. Dia sangat khawatir Zero asli akan membahayakan orang lain. Kaien memutuskan untuk merahasiakan hal ini kepada Yuki. Dia sudah meminta bantuan Kaname agar Kaname mengawasi vampir lain agar tidak memangsa Zero palsu itu. Kaien juga sangat heran kenapa anak itu tidak mengaku saja dari awal bahwa dia bukan Zero? Apa maksudnya? Mungkin anak itu ketakutan, dia akan merasa lebih aman memakai wajah lain ketimbang wajahnya sendiri sekarang.

------

Watanuki sudah terlihat tenang sekarang. Giliran Zero yang memasakkan buat Watanuki yang masih terlihat lemas. Masakan fettucini yang bahannya memang tersimpan lengkap didapur Watanuki membuat masakan Zero sempurna.
Watanuki yang perfeksionis dalam menyiapkan makanannya, sempat terlihat ragu memakan makanan bikinan Zero. Zero biasanya terlihat agak acak2an dan sembrono. Enak. Rasa lapar membuatnya tidak ragu lagi menghabiskan masakan vampir yang satu ini.
Watanuki tiba2 teringat akan bahan dari masakan fettucini Zero. “Apa kamu tersiksa dengan bawang putih?”
Mendengar ucapan itu. Zero pun batal menyuapkan fettucini kedalam mulutnya.
“Ada moulting cake dalam kulkas, kamu hangatkan sebentar di microwave. Kebetulan untuk cake itu, aku lupa memasukkan garam dan memakai shortening tawar. “
Zero menghargai perhatian Watanuki dan berjalan ke kulkas dan mengambil cake itu. Cake yang menghangat itu mengeluarkan cairan coklat yang lezat begitu kulit cake itu teriris. Cake yang dinyatakan gagal oleh Watanuki ternyata enak dimakan.
“Kendalikan dirimu dengan sebaiknya dihadapan Domeki. Jiwamu bisa bahaya. Sebisa mungkin hindari dia.”
Zero teringat Domeki. Anak cuek yang sorotan matanya membuat dia agak terganggu. Tapi bersama Domeki, Watanuki yang biasanya terlihat seperti orang gila karena ketakutan sendiri, terlihat tenang. Dia heran dengan Watanuki. Sehari2 Watanuki adalah orang penakut yang cerewet yang pasti akan menghindari vampir seperti dia. Watanuki bahkan lebih cerewet lebih mirip ibu2 kalau dibandingkan dengan Yuki yang memang seorang gadis. Tidak disangka saat ini, justru Watanuki mau melindungi dia. Zero sangat ini tahu kenapa. Tapi Watanuki terlihat agak tenang, dia tidak mau merusak suasana hati Watanuki sekarang.

--------

Seorang menteri terlibat dengan pimpinan Yakuza. Menteri ini menerima kabar tidak menyenangkan dari ajudannya. “Tuan, anak itu masih hidup. Ada sumber info terpercaya dari kepolisian.”
“Sial!”. Diapun meminta bantuan Yakuza untuk mencari anak itu. “Dengar, anak itu tahu wajahmu. Dia tahu siapa sebenarnya pemimpin Yakuza yang selama ini dibalik layar dan tidak diketahui polisi. Dia bisa membahayakan mu.”

--------

“Apa? Zero masuk tim sepak bola? Dia, striker yang bagus?” Yuki takjub mendengar gossip dari sahabatnya. “Zero juga tampak bersahabat dengan tim sekolah, sering membungkuk dan tersenyum..” Temannya menambahi gossip. “Hah?” Yuki takjub tidak berkedip memandangi Zero. Senyuman Zero dari bangku atas malah membuatnya bergidik.
----
“Pak, apa mungkin ya, pas Zero kecelakaan itu, dia kemasukan roh orang lain?” Yuki berbisik untuk bertanya kepada Kaien.
“Ke kenapa kamu ngomong gitu?” Kaien kaget.
“Iya, soalnya dia terlalu ramah dan rendah hati kalau jadi Zero. Zero’s used to be a jerk. But now, he is cute.” Yuki menambahi.
“ . . . . . . . . “ Kaien tidak ingin memberitahu kalau2 “Zero” ini bukan Zero.

----

“Himawari-chan…” Watanuki dengan riang menyapa teman sekolahnya yang satu ini. “Aku bawakan bento untukmu.”
“Arigatou, Watanuki.” Himawari tersenyum. “Uummm, seharusnya kamu juga membawakan Toshi bento juga. Biar kita bisa makan rame2.”
Bayangan Toshi berwujud vampire terlintas di pikiran Watanuki. Wajahnya jadi membiru. “Watanuki-kun, kamu sehat?” Himawari khawatir.
“Iya iya…” Watanuki celingukan mencari Toshi yang tiba2 menghilang. “Gawat kalau ketemu Domeki sendirian.” ‘Toshi’ is a jerk but it’s not worth to be eliminated.
Tapi…
Pemandangan Domeki yang tiba2 menghampiri ‘Toshi’ yang sedang melihat2 papan promosi kegiatan ekstra kulikuler membuat Watanuki jantungan. Wajah curiga Domeki membuat Watanuki semakin khawatir. Mau tak mau. Untuk lunch…. “Domeki, ini!” Watanuki menyodorkan bento untuk bekalnya pada Domeki agar pikiran Domeki teralihkan. Tapi Domeki malah semakin curiga memandangi Watanuki dan kotak bento itu.
Tapi ucapan Himawari pada ‘Toshi’ dan Domeki membuat Watanuki semakin kebingungan. “Toshi, ikutan aja kegiatan Domeki. Panahan.”
“Aku perlu kegiatan ekstra yang bisa membuat aku bisa sering keluar kota dengan bebas.” Toshi mencari2. Dalam pikirannya: “Mau pulang langsung naik kereta atau bus pulang ke Cross academy tidak mungkin. Polisi preman penjaga pasti sudah menghadangnya. Kalau ikut kegiatan sekolah, ikut rombongan sekolah, mungkin polisi mati kutu. Tak mungkinlah polisi mau melarang dia ikutan, ntar menambah kecurigaan. Siapa sih anak yang wajahnya sedang dipakaikan di wajahku? Kurang ajar betul, polisi2 ini!”
Ucapan Domeki membuat Watanuki memutih seputih patung Alexander the Great. “Yah, kalau ikutan panahan, kamu bisa sering keluar kota. Bahkan kamu bisa keluar negeri untuk mengikuti turnamen pelajar antar Negara.”
“Bagus…”
Watanuki khawatir ada maksud terselubung dari Domeki yang biasanya cuek. Terpaksa Watanuki harus minta ijin Yuuko untuk ikut latihan panahan juga. Dia harus menjaga Toshi. Entah kenapa dia merasa harus membantu room mate-nya ini. Ada sisi manusia yang penuh derita dari ‘Toshi’ yang begitu kental. Domeki mungkin akan langsung melenyapkan ‘Toshi’ begitu dia tahu ‘Toshi’ adalah vampir.
Tapi terdiamnya Yuuko saat dia meminta ijin untuk tidak hadir kerja pada saat waktu latihan panahan membuat Watanuki khawatir. Walau akhirnya diijinkan tapi dia yakin Yuuko pasti merasakan sesuatu. Bahkan sejak pertama kali, ‘Toshi’ ada di rumahnya, Yuuko sudah memberikan ramalan yang menakutkan tentangnya. “Fallen devil.”

-------

“Goro, bagaimana? Apa kita sudah dapat catatan permainan tim lawan?”
“Sudah. Ada satu striker baru dari Cross Academy. Dia bagus tapi catatannya masih belum lengkap, dia baru main 2 pertandingan.”
“Apa kemampuannya?”
“Aku baru mau baca. Pertandingan lalu…. Apa?” Goro terlihat kaget.
“Foto?”
“Iya…”
“Jadi ingat Toshi…..”
“Dia juga kidal….”

--------

“Zero…. Hihihihi, rambutmu dah tumbuh dikit…. Cute….. tapi aneh, kok item?” Yuki agak kaget dan ragu.
‘Zero’ terlihat kaget dan agak takut. Dia buru2 memakai topinya lagi…. Kebulatan hatinya untuk memberi tahu Yuki kapan hari jadi mendatar karena takut akan ekspresi kemarahan dan kekecewaan Yuki. Kaien juga kadang berekspresi agak berbeda kalau dibandingkan dengan pertama2 dia datang ke Cross academy. Dia sangat ingin pulang ke rumah dan teman2nya. Tapi bayangan kalau penjahat itu akan mencelakai keluarga dan teman2nya juga membuat dia membulatkan hati untuk bertahan di sekolah seram ini. Dia sangat ingin menghubungi polisi dan meminta bantuan tapi kenapa dia sepertinya ditelantarkan di sekolah ini, tidak seorang agen polisipun yang menghubungi dia. Apa kasus itu terlalu gelap? Apakah dia akan selamanya terpisah dari keluarga dan sahabat2nya? Satu hal yang jadi misteri terbesar baginya: kenapa dia harus bersaksi dengan wajah anak lain? Memang wajah baru pasti akan mengamankan dia, tapi kenapa tidak satupun polisi atau apapun menghubungi dia?

-----

“Pak, kita ada masalah.”
“Apa?”
“Anak itu sudah gila, dia ikutan tim panahan dan besok berangkat bertanding dengan sekolah lain di Kanagawa prefektur.”
“apa?”
“Bagaimana?”
“Yah, diawasi saja!”

-----

“Watanuki, kamu ikutan…”
“Iya, kenapa?”
“Hmm, kamu bisa memanah?” Himawari ingin tahu.
“Tidak ada yang tepat sasaran….:(“ Watanuki malu.
“Boleh ikutan?” Himawari ingin tahu lagi.
“Boleh, Karena bagian konsumsi.”
“Toshi, hebat ya, dia bisa panahan, kendo, judo, aikido, anggar, … Domeki, dapat team mate yang hebat.”
“Iya… “ Watanuki menjawab lesu.

-----

“Wow, stadionnya besar….”
“Iya….. ini memang gedung olah raga lengkap. Bahkan ada arena pentathlon disini.”
“Keren bisa main bola disini….” ‘Zero’ terkagum.
“Iya…. Ayo kita lakukan terbaik. Lho, kenapa, Zero?”
Toshi teringat pada teman2 sekolahnya dulu. Walau ada teman2 baru disini yang tidak kalah kompak tapi perjuangan bersama teman2nya dari tim underdog-nya dulu yang memang berjuang untuk menjadi terbaik tidak bisa dilupakannya. Apalagi sekarang dia akan bertanding melawan timnya dulu dengan wajah baru… Apa teman2nya dulu akan mengenali dia?
Yuki datang. Gadis manis ini memberikan dukungan untuk nya sebagai “Zero”. Wajah Toshi terlihat sedih saat Yuki datang mendekat untuk menyapanya. Yuki menarik tangannya dan mengajaknya berbincang di tempat yang lebih sepi.
“Ada apa?” Yuki khawatir.
“Tidak apa.”
“Apa kamu khawatir tidak bisa menang?”
“Bukan….” Sesaat Toshi sangat ingin memberi tahu Yuki siapa dia. Tapi diurungkannya setelah dia melihat tim Goro lewat. Beberapa anak di tim itu tentu saja menoleh kearah Yuki. Mata Goro dan matanya bertemu. Toshi sangat ingin melihat 2 sahabat SMPnya, dia heran kemana mereka. Tanpa disadarinya, dia langsung mendatangi Goro dan bertanya: “Kenji dan Kazu, mana?”
“Hah? Apa kamu kenal mereka?” Goro heran. Sorotan mata “Zero” serasa begitu dia kenal. Mata kecoklatan itu.
“Tidak tidak…” Toshi buru2 kabur.
Yuki keheranan dan mengikutinya setelah membungkuk sedikit kepada tim Goro.

-------

2 orang sahabat Toshi sejak SMP itu, memang terlambat datang ke stadion itu. Dengan mengebut sepeda motor, mereka berhasil sampai dalam waktu mepet pertandingan.
Mereka berlarian seperti mengejar waktu check in pesawat, sampai mereka menabrak sesosok anak berperawakan cukup tinggi sedang membawa busur. “Maaf, maaf…” mereka buru2 hendak ke tempat pertandingan, tapi saat mereka melihat cowok yang ada disebelah anak yang mereka tabrak. Mereka begitu terkejut. “To toshi???!”
Zero terkejut karena mereka bisa memanggil nama Toshi itu. Dengan cepat digenggam pakaian mereka dan bertanya: “Kalian kenal anak yang bernama Toshi?”
“Iya…. “ Mereka keheranan. “Ke kenapa? Mungkin kamu hanya mirip Toshi tapi kamu kenal Toshi jugakah?”
“Aku akan mencari kalian setelah pertandinganku usai. Aku ingin tahu Toshi kalian itu siapa?” Zero tidak ramah.
“ I iiiyaaa….” Mereka buru2 pergi.
“Dia bukan Toshi, cuman mirip. Astaga betapa mengerikan kalau Toshi seperti itu. Kasar sekali dan kelihatannya kejam.” Menggosip sambil sesekali menoleh ke arah Zero.

-----

Pertandingan berlangsung….

Toshi berpikir inilah rasanya bertanding dengan sahabat2 sendiri di tim Goro. Dia sangat ingin tahu keadaan keluarganya. Toshi pun mendapatkan ide untuk menyematkan secarik surat kepada salah seorang sahabatnya di tim lawan saat mereka beradu fisik berebutan bola.
Surat itu berhasil diterima Goro. Goro kebingungan dan seusai pertandingan yang sayangnya dimenangkan tim lawannya, Goro pun buru2 membuka surat itu. Tulisan dalam surat itu mirip tulisan Toshi. Goro pun bergegas ke tempat yang dijanjikan. Di belakang aula gedung panahan.

Toshi sebagai Zero bersama Yuki, haruslah menjaga seorang vampir yang memang sedang bertanding di gedung itu. Mereka haruslah tiap 1 jam memberikan pil darah kepada vampir itu agar tidak timbul korban.

“Siapa kamu?” Goro penasaran saat melihat “Zero’ berjalan kearahnya dengan gaya sedikit mengendap-endap.
“Keluarga Toshi bagaimana?” ‘Zero’ itu bertanya kepada Goro dengan sedikit tergesa dan tidak tenang.
“Baik-baik saja, tentu mereka sedih. Kamu kenal Toshi?” Goro mengejar.
“Ya… “

“Kapan dan bagaimana kamu kenal dia?” Goro mengejar terus.
“Maaf, aku harus pergi…” ‘Zero’ berlari menjauh saat Goro melihat seorang remaja pria tinggi keluar dari gedung pertandingan memanah. Toshi terlihat mengikuti cowok itu bersama Yuki yang memang keluar bersama dengan anak itu. Tapi si remaja itu tiba2 menghentikan langkahnya.

Dia memandangi tajam sesosok cowok yang baru akan keluar dari gedung. Goro sangat terkejut melihat wajah cowok yang baru keluar dari gedung itu >> Toshi????

Goro pun buru2 menghampiri cowok itu. Cowok yang sangat mirip Toshi tapi setelah berhadapan dengan dia, Goro merasa cowok itu sangat berbeda ekspresinya dengan Toshi yang dia kenal.

Yuki terus memandangi cowok yang dipandangi vampir teman sekolahnya itu tanpa berkedip. Sedari dalam ruangan gedung, entah kenapa dia tidak bisa melepaskan pandangan dari cowok itu. Ada sesuatu tentang dia. Apa lagi saat pandangan mereka bertemu. Cowok itu terlihat terkejut dan berusaha untuk mengadakan kontak dengan dia tapi anak berkacamata di sebelahnya dan teman satu tim-nya yang menang pertandingan itu entah kenapa melarangnya.

------

Zero sangat ingin berbincang dengan Yuki. Tapi terngiang kata2 Domeki yang masuk akal. “Toshi, dengar mungkin kamu kenal cewek itu. Tapi sepertinya, kasus yang membelitmu berbahaya, apa gadis itu kalau terlihat kontak dengan kamu, tidak apa2? Kamu yakin, penjahat itu tidak tahu kamu disini?”
“Aku sangat ingin dia tahu kalau ini aku.” Zero sebal. Ingatannya ter-rewind pada saat matanya menangkap sesosok anak berwajah mirip dengan dia. Dia merasa memang anak itu tidak terlihat membahayakan, terlihat bodoh malah tapi dia begitu marah merasa wajahnya sudah dicuri anak bodoh itu. Zero wanna give him a piece of his mind. Ada kesempatan……

Anak itu ke toilet anak cowok. Zero pun mengikutinya dan mengunci pintu masuk ke ruangan toilet dari dalam. Dengan sesabar mungkin dia menunggu anak itu selesai dan menunggu pintu WC terbuka.
“Lama sekali…”

Terdengar anak itu sedang sesegukan.

“Apa?! Anak itu pake wajahku dan sekarang nangis kayak banci!” Zero semakin gemas.

Anak itupun keluar dari kamar WC dan berjalan menunduk. Sedetik kemudian, dia baru menyadari ada anak lain dihadapannya, saat dia menegakkan kepalanya, Toshi sangat terkejut. Seorang anak berwajah dia sedang berdiri dengan penuh kemarahan dihadapannya. Genggaman kuat tangan anak itu pada leher bajunya terasa begitu ketat membuatnya sesak. Dengan tangan gemetar, Toshi berusaha mengambil revolver yang dia selipkan di punggungnya dan menodongkan kearah anak itu.

“Hey! Pengamannya aja belum kamu buka!“ Zero membantingnya ke lantai.

Toshi semakin gemetaran, revolvernya terjatuh. “Hey, apa aku lagi pake wajah kamu?”

Zero bertanya. Anak itu mengangguk ketakutan. Zero pun melonggarkan genggamannya. Toshi melihat ini kesempatan, diapun langsung menendang Zero dengan dengkul kirinya - mengenai dada kanan dekat ketiak dan memukulkan siku tangannya pada leher Zero. Zero terhuyung dan terjatuh setelah menimpa wastafel. Toshi pun berlari melompat kearah pintu. Tapi dia mengurungkan niatnya untuk lari….
“Kenapa anak itu? Rasanya dia tidak bergerak…” Toshi ketakutan dan memberanikan diri untuk menoleh kebelakang.
Zero…. Tidak bergerak. Toshi-pun menghampiri Zero dengan gemetar. Dia mengguncang2kannya. Dia teringat ada latihan untuk pesepak bola kalau2 mereka pingsan karena tidak sengaja terhantam temannya saat bermain bola. Toshi menekan bagian diantara hidung dan bibir Zero dengan jempol nya. Dia pun menekan2 dada Zero dan sesekali memberikan pernafasan bantuan. Air mata dan rasa takut teraduk jadi satu. “Gomenaze… Gomenaze…” Toshi sesekali menyeka inguskan dengan lengannya.
Dia merasa tidak bisa memberikan bantuan yang seharusnya. Toshi pun memutuskan untuk membopong Zero di punggungnya dan akan membawanya ke ruang kesehatan atau rumah sakit terdekat.
Saat dia memutar kunci dan memutar knop daun pintu…. Lehernya terasa tersengat dan pandangannya langsung kabur. Lemas… diapun tersimpuh menghadang daun pintu.

----

Toshi terbangun… dia melihat Zero berdiri di dekatnya. Secarik perban menempel erat di bagian leher yang terasa seperti digigit ratusan semut. Badannya masih lemas. Bau kapur barus dan wewangian membuatnya sadar kalau dia masih di WC. Toshi pun memandangi Zero dengan ketakutan. Tapi orang dengan wajahnya itu terlihat tidak semarah tadi.
“Kenapa kamu tidak lari saja?” Zero ingin tahu.
Toshi tidak menjawab. Dia sangat ingin pergi dari hadapan Zero tapi tidak ada kekuatan.
“Mungkin orang2 yang ingin membunuhmu dulu sudah tahu keberadaanku. Brengsek… polisi2 itu…. Apa kamu tahu kalau kamu akan berganti wajah?”
“Aku sumpah, aku tidak tahu, aku juga heran mengapa mereka melakukannya.” Zero mempercayai Toshi. Anak ini terlihat polos.
“Berhubung aku sekarang jadi kamu dan kamu jadi aku. Let’s trade…..”
“tttrade?” Toshi heran.
“Kalau jadi aku, jadilah yang baik. Paling tidak kamu harus bisa menggunakan revolver ini dengan baik. Kaname….. awasi dia untukku…. “
“Ka kaname?”
“Iya….” Zero pun berpikir: “Aku heran pada Kaien…. Bisa2nya dia terima anak yang tidak ada tattoo? Apa rencananya?”
“Dengar anak2 sekolah malam tidak beres semua. Mereka sepertinya merencanakan sesuatu terutama si Kaname. Tapi aku tidak tahu apa. Mereka pastilah sudah tahu, kamu bukan aku. Jadi kamu mungkin lebih longgar ketimbang aku. Sementara itu, aku akan mencari orang2 yang akan membunuhmu dulu dan menghabisi mereka untukmu. Bagaimana?”

------
Kajika Burnsworth


avatar

Posts : 183
Reputation : 2
Join date : 2011-05-28
Location : in my imagination


PostSubject: Re: Fanfic Competition #1   Thu Sep 01, 2011 8:34 am

Warning!
“Baik secara langsung atau tidak langsung, cerita ini mengandung spoiler dari anime Ano Hi Mita Hana no Namae wo Bokutachi wa Mada Shiranai (Ano Hana)
Disclaimer : Please do not claim this original story!
OC/romance/slice of life/supernatural

Gomenasai, Menma


Aku nggak akan pernah sadar kalau mengalami kejadian seperti ini, kalau bukan karena kejadian sepuluh tahun yang lalu…

“Apa aku terlalu cepat datang?” kuterawang tiap sudut kamar bernuansa putih itu, dan seutas senyum lembut menyambutku.
“Naruko-chan, kau datang sendirian? Sini masuklah.”
Bau obat menyerbak, sontak menyengat hidungku. Aku segera masuk dan terduduk di samping si pemilih wajah lembut itu, beliau bibi Touko, ibunya Jintan.
Aku meletakkan sebungkus jeruk di meja kecil, di samping tempat tidurnya. Wanita yang baru sebulan lalu kulihat berada di festival musim panas bersama suami dan putra satu-satunya itu, kini sedang berbaring sakit. Entah kenapa, bibi yang selalu nampak riang dan bersemangat, kini terbaring tak berdaya disini. Di tempat yang benar-benar nggak kusuka baunya.
“Aku bawakan buah kesukaan bibi, mau kukupaskan?”
Bibi Touko mengangguk dan tersenyum padaku. “Terimakasih. Tapi, kenapa kau datang sendiri, Naruko?”
“Tadi aku ada les, kupikir Jintan yang lain sudah duluan,” kutarik kulit jeruk yang terakhir dan kuberikan pada bibi.
“Manis. Naruko memang pintar memilih. Suatu saat kau pasti akan jadi istri yang baik.”
Aku tersenyum lebar. Semoga rona merah pipiku nggak nampak.
“Apa terkadang bibi merasa kesepian berada disini?” kualihkan topik pembicaraan.
“Nggak juga, bibi selalu yakin kalau rasa sayang Jinta selalu menemani bibi.” Senyum tulus itu menyambutku lagi. “Lagipula sekarang ada Naruko disini.” Bibi Touko mengusap-usap rambutku.
“Bibi main sesuatu yuk~”
“Boleh, permainan apa?”
“Tebak-tebakan. Mencoba menebak sesuatu. Dan kalau tebakanku sebagian besar benar, bibi harus mengajariku satu hal.”
“Apa itu?”
“Memasak.”
Bibi Touko tertawa kecil. “Boleh saja. Jadi, bibi hanya member point kalau seluruh tebakan Naruko benar.”
Aku mengangguk. “Baik, pertama~” Aku terdiam memandang bibi sambil membelakangi jendela. Samar-samar suara angin berbisik lembut padaku. “…Sebentar lagi, sepasang burung gereja akan hinggap di kusen jendela kamar ini.”
Kita saling terdiam sampai kulihat bibi Touko sejenak terkejut lalu tertawa kecil, dimintanya aku menghadap jendela. Bisa kulihat dua burung gereja bertengger di kusen jendela kamar ini.
“Sungguh seperti kebetulan.” Bibi menatapku, mata itu menunjukkan rasa aneh sekaligus penasaran. “Selanjutnya apa?”
Aku memejamkan mata, hening mendengar suara angin. “Suster yang bertugas, sebelum memasuki kamar ini akan menjatuhkan sesuatu… Hmm… benda pecah belah, mungkin gelas… dan sesudahnya akan meminta maaf pada bibi…”
PYAARR__!
Belum sempat aku menyelesaikan kata-kataku, hal itu terjadi juga. Terdengar suara benda pecah dan pintu terbuka, bisa dilihat wajah suster itu pucat pasi. Dia meminta maaf pada bibi karena telah memecahkan gelas teh pelengkap makan siang, dan berjanji akan menggantinya. Setelah suster itu keluar dari ruangan. Bibi menatapku lekat-lekat. Bisa kurasakan keheranan yang sangat pada dirinya.
Angin semilir berhembus lagi di sisi telingaku. Lagi-lagi seperti membisikan sesuatu padaku “…Kurasa Jintan akan datang sendirian, terengah-engah sambil membawa sekantong jeruk…”
BRAKK!
Lagi-lagi, omonganku belum selesai, Jintan sudah berada di hadapan kami. Aku dan bibi Touko menatapnya heran.
“Ibu nggak kenapa-napa?” napasnya memburu, ngos-ngosan, seperti habis dikejar maling. “Kudengar suara benda pecah yang asalnya dari kamar ibu, jadinya aku langsung berlari ke kamar ini…”
Bibi Touko menepuk-nepuk kepala putranya sambil menggeleng. “Ibu nggak kenapa-bapa. Ganti bajulah dulu, kau banyak berkeringat, sayang~”
“Tadi habis latihan sepak bola, bu.” Jintan nyengir lebar sambil menyerahkan sekantong jeruk “Aaahhh!! Naruko juga membawakan buat ibu…”
Bibi Touko tertawa. “Akan ibu habiskan semuanya.”
Setelah Jintan beranjak ke kamar kecil untuk mengganti bajunya, bibi Touko berbisik lembut padaku. “Naruko-chan, kau tau ESP?”
“ESP…” Aku terbengong-bengong menatap bibi.
“Sixth sense. Kau bisa merasakan sesuatu yang nggak dirasakan orang lain, sayang~”
Hening sejenak. Samar-samar bisa kudengar angin berbisik mengabarkan kegembiraan Jintan atas keberhasilan tanding bola tim-nya tadi.
“…Kau memiliki sesuatu yang luar biasa, Anaru… Kau bisa menggunakan indra keenamu dengan baik.”
***
Tapi itu kejadian sepuluh tahun yang lalu. Kejadian yang nggak akan kusadari kalau saja gadis manis itu nggak mucul kembali dihadapan kami. Menma.
Seorang Menma yang meminta kami mencari sesuatu yang hilang, sesuatu yang bernama ‘persahabatan’, dan pernah menghilang sekian lamanya sejak itu, sejak kematian Menma.
Dan bisa kurasakan, lewat angin, Menma sudah bisa tenang di alam sana. Keinginannya terpenuhi, Super Peace Buster yang tadinya tak jelas rimbanya kini telah bersatu. Rasa sesak di hati kami membuncah menjadi kehangatan ketika rahasia yang tersimpan sejak lama kami utarakan satu demi satu dengan cara yang nggak biasa. Kini aku, Jintan, Tsuruko, dan Yukiatsu dapat bertukar uneg-uneg seperti dulu lagi. Berkat Menma… Hanya saja…
Ada satu hal yang masih menyesakkan dadaku. Sebenarnya, waktu itu aku dapat melihat Menma jauh sebelum Jintan menyadari keberadaan gadis itu disisinya untuk meminta bantuan.
Apa yang harus kulakukan? Haruskan hal ini kuutarakan pada seseorang?
“Wajahmu pucat, Anaru. Nggak enak badan?”
Aku terkesiap, kudapati Jintan menatapku heran dan menggeret kursinya yang berada tepat di depan bangkuku.
“A… Aku baik-baik saja…” Sejak kejadian menma di waktu itu, Jintan memang jadi rajin datang ke sekolah. Kami bisa saling bertegur sapa, semuanya normal. Tapi perasaan ini selalu membuatku tertekan. Haruskah kuberitahukan hal ini pada Jintan? Bisa kuingat kembali, suara Anaru berputar-putar dalam benakku. Suara ketika dia bergumam mengamati koleksi game-ku, cekikikan kecilnya menemaniku di setiap pagi dan sore sewaktu aku menyirami bunga di halaman, bunyi langkah kecilnya ketika membuntutiku berbelanja ke mini market…
Anaru~ Kau bisa mendengarku?
Suara itu… kenapa aku nggak pernah menggubrisnya? Kenapa aku nggak memeluk raga halusnya? Kenapa aku harus menyesal saat ini? Apakah aku masih jealous dengan kedekatannya bersama Jintan?
“Anaru?”
“Hah?”
“Kau sakit? Mau kuantar ke UKS?” Jintan menatapku cemas. “Mau bilang nggak lagi? Nggak sinkron kalau kau berkata begitu dengan kondisi seperti ini~”
“Aku baik-baik aja. Serius!”
Jintan mengamatiku lekat-lekat. Wajah itu mengingatkanku pada bibi Touko, wajah lembut dan penuh kehangatan. Jintan menghela napas panjang.
“Yasudahlah… kalau gitu. Oh ya, pulang sekolah nanti tolong kabari ayahku kalau aku agak terlambat pulang. Mau kukabari, tapi ponselku ketinggalan.”
“Kau mulai aktif di klub sepak bola?”
“Begitulah~” Jintan nyengir lebar. “Satu lagi, kau piket kan? Jangan lupa mengganti bunga baru di vas bunga di atas meja Shiroyama.”
Ah, kalau saja Jintan nggak mengingatkan, hampir saja aku lupa. Tapi bangku itu…
Krisan yang sudak cukup layu itu kuganti dengan yang masih segar. Kususun dalam vas bunga dan kutatap bangku nggak berpenghuni itu. Shiroyama Aki, teman sekelas kami yang seminggu lalu pergi ke surga karena sakit. Agak aneh memang, karena sejauh yang ku kenal, Shiroyama adalah seorang cowok gesit penyuka olahraga, yang menjabat menjadi Kapten tim atletik sekolah.
Lagi-lagi perasaan itu menggelitikku. Kudapati seutas senyum di bangku kosong itu. Berbeda dengan bibi Touko, tapi senyuman itu sungguh hangat.
“…Nggak usah mengelak.”
Aku menatap hening bangku Shiroyama.
“…Kau bisa melihatku kan, Anjou Naruko?”
***
“Jadi… apa maumu?”
“Nggak mau apa-apa.”
“Arwah yang masih berada di dunia manusia, pasti memiliki tujuan tertentu sampai berada disini.”
“Nggak tuh, sok tahu kau.”
Aku menatap Shiroyama kesal. Kalau raganya masih berwujud manusia normal, mungkin aku bisa memukulnya.
“Jujur nggak ada.” Shiroyama tersenyum padaku. “Oh ya, panggil aku Aki saja, nggak usah formal begitu, Naruko.”
“Siapa yang menyuruhmu memanggilku Naruko?” sahutku ketus.
“Nggak ada.” Shiroyama menatap keluar jendela. “Akhirnya, sejak seminggu lalu aku sama sekali nggak digubris, aku mendapat respon positif hari ini. Nggak suka menerima kenyataan kalau kau punya sixth sense ya?”
Aku nggak menggubrisnya. “Kau benar-benar nggak minta bantuan?”
“Aku boleh ikut main ke rumahmu?”
“Nggak! Lagian kau cowok.”
“Kau lupa kalau aku mahluk halus? Nggak akan ada yang menegurku kalau berbuat iseng sekalipun padamu,” Shiroyama nyengir lebar. “Lagian, apa kau nggak minat mencari tahu kenapa aku masih berada di dunia manusia ini?”
Mungkin aku hampir mencekiknya (kalau itupun bisa) jika Jintan nggak melintas di depanku.
Grrr! Cowok bertubuh transparan ini menyebalkan!
***
“Aku suka Jintan…”
Aku melotot sambil bergegas menutup buku harianku. “Kenapa kau baca milik orang sembarangan?”
“Karena buku itu tergeletak dia atas meja dalam keadaan terbuka.”
“Aki!”
“Yeah~”
Jujur, err… aku ralat! Ceplas-ceplos itulah Aki. Well, akhirnya dia bisa membuatku memangilnya dengan memakai nama kecilnya.
“Ini sudah lewat seminggu, dan kau sama sekali nggak tahu kenapa sampai saat ini kau berada di dunia manusia?”
Aki terdiam.
Entah tiba-tiba saja perasaan bersalah menggelitikku sekali lagi. Seandainya saja waktu itu, aku juga seperti ini kepada Menma. Menyapanya, mengajaknya bercanda, dan memeluknya erat.
“Besok kuajak ke sekolah putri A. Ada adikku disitu, siapa tahu kau bisa membantu memecahkan masalahku…”
Tapi kenyataan nggak seperti yang dibilang Aki. Di hari H, aku bertemu Haruka, adik Aki, dan nggak menemukan apapun disana.
Aki bukan seorang anak bermasalah, dia hidup dalam keluarga yang bahagia, adiknya manis dan menyambutku dengan ramah.
Kakak teman sekelas kakakku? Terima kasih atas perhatiannya untuk kak Aki, tapi kurasa… selama hidup, kakak nggak pernah mencari masalah. Dia siswa teladan dan aku selalu mendoakannya bahagia di surga.
Lalu apa yang salah dengan Aki? Aku menatap prihatin sosok transparan itu. Entah mataku yang salah atau apa? Sosok Aki rasanya aneh…
“Naruko rasanya… sosokku… perlahan-lahan akan menghilang.”
Apa yang harus kulakukan?
“Bawa aku ke taman kota,” sambung Aki dengan nafas tersenggal-senggal.
***
Taman kota malah hari memang seperti ini keadaannya, sunyi.
Aku berdiri di samping Aki yang terduduk di ayunan taman. Kalau dia seorang manusia hidup, pasti segera kuantar ke dokter, tapi ini… Apa aku harus mencari cenayang untuk membantunya?
Apa? Apa yang harus kulakukan? Aku nggak ingin Aki menghilang begitu saja tanpa mengetahui apa yang sebenaranya dia ingikan. Aku nggak ingin dia menghilang begitu saja seperti Menma! Eh, menghilang? Bukankan arwah di dunia manusia yang keberadaannya perlahan menghilang itu pertanda…
Aku berjongkok menatap wajah pucat Aki. Tanganku nggak berhasil menggapai tangannya, tembus tanpa berhasil kugenggam.
“Kau sudah menyadarinya, Naruko?” suara Aki tercekat. Terdengar seperti tersengal-senggal menahan nafasnya. “Mungkin ini sudah waktunya aku pergi…”
“Tapi aku sama sekali nggak membantumu, Aki.”
Aki tersenyum kecut. Telunjuknya terjulur menunjuk jalan raya di depan taman. “Disitu… Sebulan yang lalu, hidupku berakhir di tempat itu. Menyedihkan bukan?”
Aku menatap nanar jalan raya. “Sebulan yang lalu bukankah, diadakan pertandingan atletik antar sekolah?”
“Kau bisa mengingatnya dengan jelas,” Aki mengalihkan pandangan padaku. Wajah itu pucat, nggak seperti Aki yang dulu. Cowok angin yang setiap pagi dengan wajah riangnya berlatih di track lari sekolahan. “…Aku sungguh ceroboh, malam itu aku nggak memperhatikan keadaan sekitar. Mobil itu melaju ketika aku berusaha menyelamatkan kucing kecil di tengah jalan…”
“…Bukankah, pengendara mobil ternyata berisi beberapa pemuda mabuk yang ugal-ugalan menyetir di jalan raya yang setelah kejadian itu mereka langsung diamankan polisi?” Tanpa sadar aku mencengkram bahu Aki. Eh, aku bisa menyentuh cowok transparan ini?
Aki melihat respon terkejutku sambil tertawa. “Kurasa kalau dilatih, kemampuan sixth sense mu dapat mengingkat, Naruko.”
Wajahku memerah, buru-buru kulepas tanganku dari bahunya.
“Kau nggak perlu membantuku lagi… Aku sudah tahu apa yang kuinginkan,” Aki menggengam tanganku. Tangan yang dingin, sedingin udara malam. “Aku ingin bertemu denganmu, Naruko.”
“Aku?”
Aki mengangguk.
“Kupikir kau gadis menyebalkan yang hanya bisa berpenampilan modis, tapi sejak saat itu aku memperhatikanmu, kupikir kau cukup menarik.”
Sangat ceplas-ceplos, berbeda sekali dengan Jintan. “Kau mau kutampar ya?”
Cowok itu malah cekikikan.
“Dari sini, tiap malam, aku selalu berlatih lari. Dari sini pula, aku menyusuri jalanan yang sepi sambil memandangi cantiknya malam dan kerap kulihat seorang gadis yang berlari riang menuju toko game. Ternyata, dia bekerja di toko itu, dan sepulangnya dia selalu melewati taman, singgah sebentar hanya untuk menghampiri kucing kecil, lalu memberinya makan… Dan gadis itu, kau Naruko.”
Rasa sesak memenuhi seluruh dadaku.
“Di sekolahan aku sama sekali nggak bisa menyapamu. Dadaku rasanya sesak begitu melihat pandanganmu terus tertuju pada bangku kosong di depanmu. Bangku yang nggak pernah diisi pemiliknya karena nggak pernah masuk sekola…”
Aku paham betul maksud Aki, bangku itu milik Jintan. Aku memang sangat menghawatirkan keadaan Jintan saat itu, dan sangat-sangat menghawatirkannya karena aku menyukainya.
“Kurasa sudah waktunya aku pergi.” Aki beranjak dari ayunan, dan berdiri di hadapanku. “Terima kasih buat semuanya, Naruko.”
“Hanya itu?” Hah? Apa aku sadar apa yang kukatakan barusan?
Aki tertawa. “Kau bisa menjaga Haruka untukku? Aku sangat menyayanginya. Dan ada satu hal lagi… Cerobohnya aku, kenapa bisa melupakan hal penting seperti ini?” Aki berkeluh sambil meruntuki dirinya sendiri. “Aku sempat bertemu dengannya… Gadis mungil berambut panjang… Dia memintaku menyampaikan hal ini padamu…”
Entah kenapa, tiba-tiba perasaan bersalah menyelimutiku.
“Dia memintamu menjaga Jintan untuknya.”
Aku terkesiap. “Menma, kah?” tanpa sadar aku melafalkan nama itu.
“Siapa?”
“Gadis yang kau temui. Apa dia memakai dress sepanjang lutut? Apa dia sehat? Dimana kau bertemu dengannya?” sontak kugenggam erat kedua bahu Aki. Air mataku menetes satu per satu. “…Aku ingin bertemu dengannya, aku ingin bertemu Menma…”
“Naruko juga bisa menangis ya…” Aki tersenyum miris. “…Dunia arwah itu susah di utarakan secara gamblang, Naruko. Yang jelas…” tiba-tiba Aki memelukku erat. Aku bisa merasakan udara dingin menyelimuti seluruh tubuhku. “Gadis mungil itu ingin kau bisa mengabulkan permintaannya, dia ingin kau selalu tersenyum bila mengingatnya. Dia nggak ingin melihatmu menangis.”
Tapi, aku sama sekali belum meminta maaf pada Menma. Pelukan Aki tiba-tiba merenggang, sosok transparannya mulai samar menghilang.
“Tersenyumlah juga untukku.”

***
Aku terduduk lemas di tanah. Air mata ini nggak dapat kubendung lagi. Nggak bisa kuraih, sosok Aki menghilang begitu saya dari hadapanku. Nggak hanya Aki, ini sudah ketiga kalinya aku melihat sosok transparan tersenyum padaku, kemudia mereka menghilang. Aki, bibi Touko, dan Menma.
Apa yang harus kulakukan? Kenapa Aki dengan mudahnya muncul dan menghilang begitu saja dari hadapanku. Kenapa aku nggak bisa mencegah kepergiannya? Kenapa Menma bertemu dengannya, nggak langsung saja menyampaikan hal itu padaku?
“Kenapa kau ada disini Anaru?”
Nggak perlu aku berdiri untuk mengenali sosoknya. Dengan mudah aku tahu kalau itu Jintan. Aku masih dalam posisi terduduk sambil menelungkupkan kepala. Kucoba menahan sesenggukanku ketika Jintan ikut terduduk di sebalahku.
Nyaaa~
Eh, suara kucing? Aku mengadahkan kepala dan menatap sosok Jintan sedang menggendong kucing kecil. Kucing itu, kucing yang kuberi makan setiap aku pulang dari part time, apa itu juga kucing yang diselamatkan oleh Aki?
“Kau menangis?”
“Kau pikir aku tertawa?” timpalku bersunggut-sunggut sambil menghapus air mata yang mengkancurkan maskaraku. Ini benar-benar konyol!
Jintan terkekeh. Entah sejak kapan, dia terlihat seperti Aki. Bukan… Bukan Aki! Lebih tepatnya dia terlihat seperti sosok Jintan sepuluh tahun yang lalu. Sosok cerah yang selalu menyemangati kami, para anggota Super Peace Buster.
“Penampilanmu buruk banget. Mau kuantar pulang?” dia berdiri kemudian membantuku untuk berdiri.
“Makasih!” ujarku ketus menerima uluran tangannya.
“Kenapa sih sesenggukan sendirian di taman seperti itu?”
“Kemasukan debu.”
Jintan terbahak-bahak. “Sekarang kau juga bisa melawak ya?”
Aku terdiam, terhenti mengikuti langkahnya.
“Ada apa Anaru?” Jintan menoleh kearahku.
“…Soal Menma. Apa kau akan marah dan membenciku kalau aku memberitahumu satu hal?”
“Ada apa dengan Menma?”
“Kau percaya kalau aku bisa melihat sosoknya? Jauh sebelum kau melihatnya, kita melihatnya… Sebelum kau, Tsuruko, Yukiatsu, dan Poppo…”
Saat ini, apapun yang dikatakan Jintan, aku siap menerimanya. Apapun… Walau Jintan dan yang lain-pun akan membenciku karena nggak memberitahukan hal ini… Karena waktu itu aku hanya bisa berfikir bahwa sosok Menma hanyalah halusinasi. Terlebih, sebagai arwah, dia nggak meminta apapun dariku, hanya mengikuti kemanapun aku pergi. Nggak risih, tapi aku malah menerimanya. Tanpa perlu bertegur sapa, aku merasakan perasaan yang nyaman ketika Menma berada disisiku. Perasaan hangat, sama seperti seorang kakak melindungi adiknya.
Jintan menatap kucing kecil yang tertidur dalam pelukannya. “Nggak, untuk apa aku marah? Apa saat itu Menma meminta sesuatu padamu, seperti dia meminta padaku?”
Aku menggeleng. “…Menma hanya, terus berada disisiku, mengamatiku tanpa membuat masalah pada apapun yang kukerjakan.”
Jintan tersenyum lalu menepuk-nepuk kepalaku. “Dia ingin menjagamu itu saja…”
Aku terbengong-bengong. “Kau nggak marah, aku nggak memberitahukan soal itu pada kalian?”
“Ibu pernah berpesan sesuatu padaku, memintaku merahasiakan satu hal…”
“Soal?”
“Teman masa kecilku, Anjou Naruko. Ibu berkata padaku kalau gadis itu memiliki sixth sense, indra keenam yang cukup kuat. Aku diminta ibu untuk menjagamu. Aku tahu, kalau kemampuan orang yang memiliki indra keenam diluar batas kewajaran dan suka menimbulkan masalah bagi orang itu. Karena itu, aku nggak akan marah soal keberadaan Menma di sisimu sebelum kita berlima tahu. Aku sudah sangat senang sudah melihat wajah riangnya berada disisi kita semua.”
Aku bisa merasakan bunyi angin. Dia memberitahukan perasaan Jintan padaku saat ini. Tentang perasaan yang hangat dan perkataan jujur yang telah diucapkannya.
Jintan mengangkat kucing kecil itu tinggi-tinggi. “Apa aku bakal diperbolehkan ayah, kalau aku memeliharanya? Kita berlima yang akan merawatnya. Jadi, Anaru nggak akan kesusahan seorang diri merawatnya.”
Nggak hanya Aki, apakah Jintan juga melihatku mengendap-ngendap di taman kota dan menemui kucing kecil ini hampir tiap hari?
“Besok kita berlima menemui Menma yuk! Kita berdoa di makamnya. Mungkin ada kisah yang ingin kau bagi dengannya.”
Aku terkesiap. “Dan makam Shiroyama Aki, teman sekelas kita. Kalau tak salah, makam itu nggak jauh dari makam Menma. Maukah kalian juga menemaniku kesana?”
“Dengan senang hati,” Jintan tersenyum sambil menatap kucing kecil yang akhirnya tertidur pulas di pelukannya. “Kurasa, mereka akan senang dengan kunjungan kita.”
Malam itu memang dingin. Tapi perasaan ini menghangatkan hatiku, sesuatu yang nggak dapat kulukiskan dengan kata-kata. Aku berjanji akan menjaga Jintan untuk kalian, Aki, Bibi Touko, dan Menma.
- FIN -
Sponsored content




PostSubject: Re: Fanfic Competition #1   

 

Fanfic Competition #1

View previous topic View next topic Back to top 
Page 1 of 1

Permissions in this forum:You cannot reply to topics in this forum
AKIRA :: Bengkel Forum :: Registrasi dan Event :: Event-